Artikel Pilihan

Menanamkan Sikap Peduli  dan Sopan Santun dalam Keluarga

Jumaiyah, S.Pd.

Penulis: Jumaiyah S.Pd

Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak sebagai generasi penerus yang cemerlang. Ibu sebagai guru pertama yang menjadi panutan dan teladan bagi anak-anaknya. Semua karakter dan tuntunan akan di dapatkan dari keluarga inti. Peran ayah sebagai kepala keluarga juga sangat penting dalam pendidikan walaupun sang ayah sibuk di luar rumah untuk mencari nafkah. Tapi pada saat sampai di rumah ayah dituntut memberikan waktu full untuk anak-anaknya agar mereka tumbuh kembang  menjadi anak yang terbimbing. 

Seiring dengan kemajuan teknologi saat sekarang ini orang tua banyak yang mengabaikan tugas utamanya. Mereka lebih mengutamakan karier daripada pendidikan anak-anaknya. Mereka banyak menyerahkan tugas dan tanggung jawabnya kepada pembantu. Akibatnya anak jadi kurang mendapatkan perhatian dan pigur dalam keluarga. Yang lebih parahnya lagi mereka tidak mendapatkan pendidikan pertama dari ibu mereka tetapi dari pembantu atau baby sister yang menjaga mereka.       

Dalam parenting keluarga adalah pilar utama dalam pendidikan anak, walaupun ibu seorang wanita karier. Ibu harus pandai membagi waktu antara pekerjaan dan perhatian untuk anak- anak dan keluarga. Sehingga anak-tidak kehilanggan tuntunan dan teladan dari kedua orang tuanya. Banyak kasus yang terjadi karena kedua orang tua sibuk dengan pekerjaan masing-masing sehingga anak kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang.

Uang dan harta yang berlimpah diberikan kepada anak tidak bisa membeli kasih sayang yang mereka butuhkan di saat masa kanak-kanak.          Penanaman karakter yang sudah banyak  terkebiri di era modern ini adalah sifat kepedulian atau rasa simpatik . Asyik dengan dunia sendiri yang banyak tertanam pada anak-anak sehingga tak peduli dengan lingkungan sekitar. 

Selain itu sikap sopan santun  yang tak kalah pentingnya diajarkan sejak dini. Sekarang ini para anak lebih banyak tampil dengan sikap kasar seperti tak bermoral sehingga tata krama tidak dipunyainya lagi. Berikut ini akan diuraikan sikap peduli sesama dan sopan santun .

A. Memiliki rasa peduli  terhadap sesama.      Memiliki rasa peduli terhadap sesama adalah hal yang harus dimiliki oleh setiap anak. Rasa kepedulian dan berbela rasa merupakan sifat penting dalam pergaulan anak, apalagi setelah dia dewasa nanti di lingkungan dalam bermasyarakat. Mulai saat ini perlu kita tanamkan prilaku peduli terhadap sesama dan rasa kekeluargaan mulai usia 5 - 8 tahun. Orang tu mulai mengajarkan anaknya sejak dini dari lingkungan terkecil untuk saling memeperhatikan saudara kandung, ibu, bapak ,nenek atau kakek yang ada di keluarga. Mereka saling merasa bila satu yang sakit maka dia ikut merasakan sakit dan saling membantu.      Akhir-akhir ini banyak kasus yang terjadi di lingkunga kita tentang tidak adanya kepedulian kepada orang tua sendiri sehingga banyak anak yang menelantarkan orang tua kandungnya. Dan juga kasus tidak peduli dengan  tetangga sendiri yang tak makan dan malah hidup terlunta-lunta di jalanan.        Beberapa cara di bawah ini yang bisa kita lakukan untuk memupuk rasa peduli anak:

1. Menyampaikan pesan dengan bahasa yang sederhana.        Anak pada usia 5-8 tahun lebih kritis bertanya tentang apa yang mereka lihat di linkungan sekitarnya. Terkadang anak melontarkan pertanyaan di luar dugaan kita sebagai orang tua. Saat berpergian bersama anak- anak tiba -tiba melihat seseorang tidur di jalanan. Ketika itu sang anak repleks bertanya, "ma kenapa orang itu tidur di jalanan?" Bila kita sebagai orang tua mengabaikan saja pertanyaan anak, maka dalam pikirannya tidur di luar rumah itu adalah hal yang biasa. Di sinilah orang tua mendapatkan kesempatan  memberikan jawaban  secera jelas dari hal yang nyata mereka lihat sehingga memberikan kesan yang selalu tertanam di hatinya.  "Nak , orang yang tidur di luar rumah itu adalah hal yang tidak baik dan orang yang tak punya uang.  Hal itu adalah hal yang tidak baik bagi kesehatan dan juga lingkungan".  Orang yang seperti itu perlu kita bantu. Beruntung kita nak hidup seperti sekarang sudah punya rumah. Maka adek harus banyak bersyukur atas nikmat Allah kepada kita. 

2. Memberikan contoh nyata kepada anak.        Di sini  ini kita tidak bisa memberikan  contoh hanya sekedar bicara     saja kepada anak. Orang tua harus memberikan contoh secara nyata kepada anak dan ajak dia untuk  terlibat langsung melakukannya.  Contohnya bila ada musibah yang terjadi di sekitar kita seperti kebakaran. Maka orang tua mengajak anak untuk berempati  dan meminta pendapatnya apa yang harus kita lakukakan terhadap saudara kita yang ditimpa kebakaran. Arahkan mereka untuk memberikan bantuan terhadap saudara yang ditimpa musibah. 

3. Waktunya bereaksi dengan si kecil        Di sini lah orang tua mengajak anaknya untuk terlibat langsung memberikan bantuan kepada orang yangembutuhkan. Contohnya ketika tetangga mendapat musibah kebakaran tadi. Ajak si kecil memberikan bantuan berupa pakaian atau mainan untuk teman yang seumurnya. Biarkan dia sendiri memilih pakaian atau mainan yang akan dia berikan. Setelah itu ajak si kecil untuk memberikan santunan tersebut  kepada temannya yang mendapat musibah kebakaran tadi. Peristiwa nyata yang dia lakukan akan berkesan dalam pikirannya bahwa kita harus peduli kepada teman yang mendapat musibah. 

Dapat juga kita ajak anak untuk menyantuni orang yang dilihatnya  tidur di jalanan.  Ajak anak berkompromi untuk memberikan bantuan apa untuk orang tersebut dan bawa anak tersebut untuk menyerahkannya secara langsung.

4. Jangan lelah ketika anak terus bertanya

Saat menanaman karakter peduli terhadap sesame akan banyak pertanyaan yang muncul dari sang anak. Hal ini disebab karena  mereka belum mengerti konsep kurang beruntung yang temannya atau orang lain rasakan. Kita sebagai orang tua harus mampu memberikan jawaban sederhana yang mudah di cerna anak, sehingga menumbuhkan sikap empati dalam dirinya. 

Jika kita lihat generasi tahun 80 atau 90 an  akan berbeda sekali anak zaman  sekarang( Kids zaman now) dengan anak zaman dahulu. Perbedaan itu bisa kita lihat dari prilaku, kepribadian, gaya hidup, dan karakter peduli sesama. Kids zaman now lebih bersifat individualis dan mementingkan diri sendiri daripada etika sosialnya.  Oleh sebab itu orang tua bertanggung jawab dalam pembentukan   karakter  anak. Sebuah penelitian dari Harvard University  menyatakan cara membesarkan anak yang punya moral dan emosional yang  peduli sesama adalah’;

Kembangkan ikatan keluarga penuh kasih

Hal utama dalam menanamkan rasa peduli dengan orang lain adalah dengan menerapkannya dalam keluarga. Ibu dan ayah yang penuh kasih , saling bekerjasama, dan saling peduli akan melatih emosi anak. Anak akan mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya karena orang tua adalah pigur utama dari anak-anak.

Menanamkan standar etika sosial yang tinggi

Bila anak-anak butuh punya etika terhadap sesama, maka orang yang lebih tua lebih tahu bagaimana bersopan santun dalam situasi apapun. Oleh sebab itu penanaman karakter itu juga sejak dini. Bila anak melakukan kesalahan dalam berprilaku seperti menyakiti orang lain  jangan dikatakan “ah itu wajar, dia masih kanak-kanak”. Jika terjadi hal yang demikian seharusnya orang tua mengingatkan dan menunjukkan bagaimana seharusnya anak bersikap pada orang yang lebih tua.

Biarkan anak mengenal banyak orang

 Untuk melatih dan membangun karakter anak, maka ajaklah anak mengenal banyak orang. Mulai dari saudara  dekat, tetangga, teman sekolah , dan teman-teman di tempat bermain yang umum. Dengan mengenal banyak orang akan melatih sense emosional dan moral anak. Kita sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lainnya dalam hidup, dan tidak bisa lepas dari bantuan orang lain. 

B. Penanaman sopan santun sejak dini

Anak-anak kita sekarang ini sudah terkontaminasi dengan arus globalisasi. Apa yang mereka lihat di dunia maya dan tontonan visual membuat mereka terbawa arus berpilaku seperti apa yang mereka lihat. Negara kita yang kaya dengan adat sopan santun dan tata karma ketimuran mulai pupus seiring perkembangan teknologi. Sering kali kita melihat tontonan yang kurang mendidik seperti anak membentak orang tuanya, atau berkata kasar terhadap orang yang lebih tua. Ini yang sering mempengaeruhi anak-anak kita dalam berprilaku sopan santun. 

Sekarang ini kita sudah sering mendengar anak berbicara kasar  dan bahkan sampai membentak orang tuanya.  Hal inilah yang perlu menjadi catatan penting  orang tua dalam pola pengasuhan  anak. Perkembangan zaman yang semakin modern , sehingga orang tua jarang mendidik anak-anaknya dalam hal sopan santun. Anak-anak dibiarkan sendiri dengan keasyikannya sedangkan orang tua sibuk dengan pekerjaan masing-masing.  Setiap orang tua akan sangat senang bila mendengar anak-anaknya bersikap santun ,hormat, dan bertata krama yang baik.

Sebagai orang tua ajarkanlah sejak dini perihal sopan santun  dan tata krama kepada anak. Berikut ini beberapa sopan santun yang bisa di jarkan kepada anak:

Mengucapkan terima kasih

     Hal pertama yang perlu diajarkan kepada anak adalah mengucapkan terima kasih bila dirinya menerima sesuatu. Apapun bentuk pemberian yang diterimanya baik berupa benda maupun bantuan selalulah ucapkan terima kasih. Ucapan tersebut merupakan bentuk penghargaan yang me,mbuat si pemberi merasa di hargai.

Meminta maaf ketika melakukan kesalahan

     Ajarkan kepada anak meminta maaf setiap melakukan kesalahan. Apapun bentuk kesalahannya dan kepada siapapun harus diucakpan kata maaf. Prilaku minta maaf merupakan suatu pengakuan atas kesalahan yang telah diperbuat. Jika prilaku minta maaf sudah diterapkan sejak kecil maka sampai dewasa akan terbiasa untuk melakukannya tanpa diperintah.

Meminta tolong ketika butuh bantuan

       Saat kita butuh bantuan kepada siapapun  itu, ucapkanlah dengan kata “tolong”. Saat minta bantuan posisi anak harus berada di bawah, artinya hormat kepada orang yang akan dimintai tolong. Ini merupakan salah satu bentuk kesopanan yang perlu di tanamkan sejak dini.

Tersenyum pada orang yang dikenalnya

         Ajarkan anak untuk bersikap tidak  jutek  dan sombong. Ajarkan anak untuk selalu tersenyum dan menyapa setiap orang yang dikenalnya. Mengucapkan salam dan tersenyum menujukkan anak yang ramah dan tidak angkuh. 

Tidak memotong  pembicaraan

        Setiap anak mempunyai sikap ingin tahu  yang tinggi, sehingga seringkali anak memotong pembicaraan orang tuannya sehingga member kesan dia seorang anak yang egois. Mulai sekarang ajarkan anak sikap sabar  ketika orang lain sedang berbicara. Setelah selesai orang berbicara baru si anak di perbolehkan berkomentar. Jik anak ingin memotong pembicaraan maka sebaiknya acungkan tangan sebagai tanda ingin menyampaikan sesuatu. Ini lebih baik daripada langsung berkomnetar. Sikap ini juga perlu di tanamkan pada orang tua, kadang kala orang tua kurang mau mendengarkan pembicaraan anak, malah kadang langsung memotong  pembicaraan anak  sehingga anak mengikuti seperti prilaku orang tuannya.

Menghormati orang yang lebih tua

        Orang tua perlu memberikan bimbingan terhadaap pergaulan di lingkungan sekitar. Anak harus memanggil apa terhadap orang tua, teman lebih tua atau teman sebayanya agar dalam berbicara anak tahu memposisikan dirinya. Jika tidak ada arahan  maka banyak anak yang mengaaggap lawan berbicaranya masih seumuran dengannya. 

Berbicara dengan nada suara yang lembut

        Anak-anak memiliki tingkat emosional yang tinggi, ketika dia tidak menyukai sesuatu maka nada bicaranya akan tinggi dan bersifat memberontak. Ajarkan anak untuk berbicara dengan suara yang lembut walaupun tidak sesuai dengan keingginanya. Tuntun anak untuk berbicara yang lembut terutama pada orang yang lebih tua darinya.

Memberi  dan menerima dengan tangan kanan

       Prilaku penggunaan tangan kanan dan tangan kiri sudah mengikuti gaya kebarat-baratan. Padahal tangan kanan dan tangan kiri memiliki fungsi yang berbeda. Setiap anak memberi atau menerima sesuatu dari orang lain biasakanlah dengan tangan kanan, karena tangan kanan menujukkan tanda kesopanan yang lebih tinggi. 

Ajaran sederhana di atas sangat  berpengaruh hingga anak dewasa nanti. Walaupun budaya sopan santun mulai terkikis namun orang tua jangan pernah berhenting untuk mengajarkan bersopan santun dimana saja berada. Bila anak berprilaku tidak sopan selalulah orang tua untuk menginggatkann dan jangan pernah bosan untuk menmginggatkan generasi kita. 

Jumaiyah, S.Pd merupakan guru aktif di SMP 14 Dumai, beliau juga penulis buku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[Ikuti Seputar Riau Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar